Thursday, July 24, 2014

Blunder Sang Jendral

BLUNDER SANG JENDRAL

Oleh:
Audy WMR Wuisang

Prabowo Subianto, Letnan Jendral Purnawirawan, berjuang melawan badai. Membangun karir politiknya dari NOL, bahkan boleh dibilang MINUS, karena tertawan oleh dugaan pelanggaran HAM. Tetapi, sedikit demi sedikit, dia mampu membangun citranya dirinya. Dia membangun karir politiknya selangkah demi selangkag. Membentuk Partai GERINDRA hingga akhirnya Partai binaannya itu menjadi Pemenang Nomor 3 dalam Pemilihan Umum 2014. Sebelumnya, pada tahun 2009, dia melenggang ke pentas politik sebagai Calon Wakil Presiden dari Megawati Soekarnoputri. Belum cukup? Partai binaannya itu, akhirnya mampu membangun koalisi yang SUPER guna mengusung PRABOWO menjadi CALON PRESIDEN 2014 berpasangan dengan Hatta Rajasa. Kali ini, berhadapan dengan Megawati yang mengutus seorang Joko Widodo.

Terperosok dalam survey dengan gap cukup besar pada 3-4 bulan sebelum pelaksanaan Pemilihan Presiden 2014 tidak membuatnya patah arang. Prabowo Subianto menunjukkan karakter ulet dan pantang menyerah. Keterpilihan di survey yang kalah jauh dari Joko Widodo, perlahan dikebut, dikejar hingga pada beberapa hari menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden 2014, dia mampu memepet, jika tidak melampaui. Tidak ada surveyor yang SANGAT YAKIN bahwa Joko Widodo akan memenangkan Pilpres sebelum seorang FACHRY HAMZAH berkicau "Sinting" dan sebelum Fadly Zon membombardir Joko Widodo dan teamnya. Tepat beberapa hari sebelum rakyat menuju BILIK SUARA.

Tidak salah jika Jusuf Kalla menyatakan bahwa kicauan "sinting" Fachry Hamzah, bombardir sindiran dan serangan duet Fachry+Fadly, justru menentukan kemenangan Jokowi. Ini boleh dikata sebagai "balasan" atas perbuatan tidak simpatik duet maut Timses Prabowo-Hatta yang terus membombardir Jokowi di masa tenang. Plus, di bulan Ramadhan pula. Maksud mereka mendegradasi citra seorang Jokowi, tetapi apa lacur, justru simpati pemilih yang condong ke Jokowi. Maka, hasil Pemilihan Presiden 2014 akhirnya kita tahu bersama. Jokowi+Jusuf Kalla memenangkan Pilpres 2014.

Jika pra Pemilihan Presiden blunder dilakukan oleh Tim Sukses yang menghantarkan juang seorang Prabowo Subianto terlihat ANTI KLIMAKS, maka ironi pasca pemungutan suara justru dilakukan Prabowo Subianto sendiri. Beberapa saat sebelum Pleno penghitungan suara di KPU berakhir, dengan tinggal 2 daerah yang akan dihitung, Prabowo Subianto menggelar Konferensi Pers di kediamannya. Posisi penghitungan sudah jelas pada saat itu, PRABOWO-HATTA kalah suara dibandingkan pasangan JOKOWI-KALLA. Isi konferensi per itu: Menarik Diri dari Proses Pemilihan Presiden dan Menolak Hasil Pemilihan Presiden. Astaga .......?

Proses penghitungan sontak heboh. Saksi pasnagan PRABOWOI-HATTA walk out meninggalkan sidang KPU. Tetapi penghitungan terus dan tetap dilanjutkan dengan hasil akhir gap 8,000,000 lebih suara yang memenangkan Joko Widodo guna menuju kursi Presiden RI 2014-2019. Tidak ada gejolak yang berarti selain index harga gabungan saham dan rupiah yang terkoreksi menurun. Tetapi, sambutan warga Indonesia sungguh dewasa. Tidak ada PERAYAAN KEMENANGAN berlebihan dan tidak ada MASSA yang MENGAMUK. Pengumuman hasil penghitungan KPU disambut dengan sukacita, disambut sebagai kemenangan demokrasi, meski ada kelompok lain yang mempertanyakan proses Pemilihan Presiden yang dituduh curang, tidak konstitusional dan berpihak.

Mengapa Blunder?

Mengapa disebut BLUNDER? Karena sangat disayangkan, perjalanan karir seorang Prabowo Subianto naik secara perlahan hingga menduduki tempat terhormat diantara elite politik Bangsa Indonesia. Jikapun kalah, seorang Prabowo kalah secara terhormat dan sudah memberi pelajaran yang sangat berharga bagi perjalanan demokrasi Indonesia. Dia akan dikenang secara terhormat dan hampir bisa dipastikan, persoalan masa lalunya akan semakin senyap untuk digunjingkan orang. Bahkan, diapun masih sangat mungkin menjadi bagian dari lingkaran elite politik yang memberi pengaruh tidak kecil dalam perjalanan Bangsa kedepan.

Tetapi, yang dipilih dan dilakukan adalah kesebalikannya. Mengundurkan diri dan menyatakan KPU curang, tidak adil, tidak terbuka dan karenanya menolak hasil Pemilihan Presiden. Menuntut dilakukannya Pemilihan Presiden ulang.

Meski publik politik Indonesia tidak bergejolak karena konferensi pers Prabowo Subianto ini, tetapi rasanya efeknya akan seperti "bom" bagi Prabowo Subianto sendiri. Terutama bagi karir politik yang sudah dibina, sudah dipupuknya secara sangat sabar, telaten, terstruktur selama sepuluh tahun terakhir. Proses panjang yang menghantarkannya menjadi Calon Wakil Presiden 2009 dan kemudian Calon Presiden tahun 2014. Teramat sedikit putra Bangsa yang sanggup mencapai prestasi membanggakan seperti yang mampu dicapai oleh sang Jendral yang memulainya dari nilai minus.

Segera setelah KPU menetapkan Joko Widodo sebagai Presiden terpilih dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden terpilih, Presiden RI, Soesilo Bambang Yudoyono langsung mengucapkan SELAMAT. Dan disusul dengan ucapan selamat dari Wakil Presiden Boediono. Esoknya, ucapan selamat dan antusiasme dunia internasional susul menyusul menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden terpilih, termasuk dari Barack Obama, Presiden USA. Bahkan, Dubes USA menegaskan: USA dan Indonesia dapat menjadi CONTOH bagi demokrasi global. Sungguh luar biasa penghargaan tersebut.

Pada saat yang hampir bersamaan, Menko POLKAM juga menegaskan bahwa masyarakat Indonesia sudah cerdas dan tidak ada gejolak meski Prabowo Subianto menegaskan menolak hasil Pemilihan Presiden 2014. Dan ini dipertegas lagi oleh Panglima TNI dan KAPOLRI yang menjawab pengunduran diri dan penolakan Prabowo dengan MENINGKATKAN KEAMANAN. Sikap Negara sudah sangat jelas: MENGHORMATI HASIL PENETAPAN KPU. Dalam hal ini, Presiden, Panglima TNI dan KAPOLRI, memang menunjukkan keberpihakan yang sangat jelas kepada proses demokrasi. Dan ini, semakin membuat posisi pilihan Prabowo menjadi terkesan kurang mecerminkan kenegarawannnya. Berbeda jauh dengan proses perjalanan karir politiknya yang dengan sabar dan perlahan-lahan dibangunnya.

Dengan sikap politik dan keberpihakan atas demokrasi yang ditunjukkan oleh Pemerintah RI, juga atas antusiasme dunia internasional terhadap keterpilihan Jokowi, maka penolakan Prabowo menjadi terasa "aneh". Publikpun bertanya-tanya, apa gerangan yang disasar oleh konferensi pers ini? Mengapa pula Prabowo rela menempuh langkah yang terkesan inkonsisten dengan kalimat-kalimatnya yang terkesan ksatria sebelumnya? Masih untung Prabowo menegaskan alur perjuangannya kedepan: Konstitusional, massa pendukung tetap tenang dan berjuang tanpa melakukan kekerasan. Masih ada penegasannya yang cukup positif meski sikap umumnya cenderung negatif terhadap penghitungan KPU. Tidak lama kemudian, Team Sukses bermetaforfosis menjadi Team Perjuangan Merah Putih.

Belum lagi, lewat sebuah media sosial, Penasehat Hukum (Team Hukum) Prabowo-Hatta, Mahendratta juga menegaskan: Pasangan ini kehilangan legal standing karena mengundurkan diri, karena itu MK (Mahkamah Konstitusi) bukan pilihan berjuang. Masih diperkuat oleh penegasan AMIEN RAIS: MK bukan pilihan. Ironis memang . Karena justru, pilihan yang tersedia hanyalah MK. Dan bisa ditebak, keesokan harinya, kabar tersebut dianulir, dan kini Prabowo-Hatta sedang menuju pintu MK untuk mengadukan hasil (atau proses?) yang menurut mereka CURANG dan TIDAK ADIL tersebut. Inkonsisten? entahlah, biarlah orang banyak menilai.

Dimana BLUNDER yang dimaksud?

Pertama, ternyata, meskipun Partai Demokrat (PD) - Partai Pemerintah mendukung pasangan Prabowo-Hatta, tetapi Presiden SBY yang juga adalah Ketua Umum PD, bersikap sebagai NEGARAWAN dan tetap Netral. Netralitas tersebut berimbas kepada Panglima TNI dan KAPOLRI yang juga menempuh dan mengambil sikap yang sama: Meningkatkan pengamanan ketika Prabowo Subianto mengumumkan pengunduran diri dan menolak hasil PILPRES.

Kedua, antusiasme dunia internasional yang ditunjukkan dengan derasnya arus ucapan SELAMAT kepada Jokowi semakin memperkokoh posisi keterpilihannya. Dunia internasional justru bertanya-tanya dengan sikap Prabowo yang terkesan kurang ksatria dan tidak menunjukkan sikap kenegerawanannya.

Ketiga, masyarakat sipil, bahkan termasuk PBNU yang Ketua Umumnya menjadi pendukung Prabowo-Hatta secara pribadi, juga menunjukkan sikap yang sama. Sejumlah besar organisasi Masyarakat Sipil menunjukkan dukungannya kepada JOKOWI dan KPU sampil menyayangkan sikap Prabowo yang terkesan tidak NEGARAWAN. Bahkan Ketua Umum PBNU ikut menyesalkan sikap dan pilihan Prabowo tersebut.

Keempat, merespons himbauan TNI/POLRI, masyarakat Indonesiapun terkesan menganggap Pemilihan Presiden SUDAH SELESAI. Artinya, pilihan politik terakhir Prabowo Subianto tidak mendapatkan dukungan yang signifikan dan tidak memperoleh simpati masyarakat Indonesia.

Karena fakta-fakta di atas, maka Prabowo bagaikan melakukan "bunuh diri" politik. Karir politik yang dibangun dengan perlahan dan dalam hitungan tahunan, lebih kurang 10 tahun bakal menguap dengan sendirinya. Terlepas dari pengaruh dan ambisi tim sukses yang mengitarinya, tetapi pilihan politik yang dibacakannya sendiri dengan tidak didampingi Hatta Rajasa, membuat tudingan banyak terarah ke Prabowo Subianto. Inilah blunder tersebut. Dan harus dikatakan pilihan tersebut SANGAT DISAYANGKAN mengingat bagaimana dia menata karir politiknya dari titik zero hingga mencapai titik yang sangat tinggi.

Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa Karir Politik Prabowo Subianto sudah TAMAT. Karena bagaimanapun POLITIK bukanlah matematika. Tetap ada kemungkinan sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tetapi, kecenderungan yang sedang terjadi dewasa ini menempatkan posisi Prabowo dalam konteks Politik Indonesia yang kurang menyenangkan. Kita semua boleh berharap, REKONSILIASI yang dimaksud JOKOWI akan melibatkan proses memulihkan hubungan dengan PRABOWO SUBIANTO. Meski, publik politik Indonesia akan memandang Prabowo sebagai orang yang kurang ksatria menerima kekalahannya. Sayang disayangkan !!!

Jakarta, 24 Juli 2014


No comments: