BLUNDER SANG JENDRAL
Oleh:
Audy WMR Wuisang
Prabowo Subianto, Letnan Jendral Purnawirawan, berjuang melawan
badai. Membangun karir politiknya dari NOL, bahkan boleh dibilang MINUS, karena
tertawan oleh dugaan pelanggaran HAM. Tetapi, sedikit demi sedikit, dia mampu
membangun citranya dirinya. Dia membangun karir politiknya selangkah demi
selangkag. Membentuk Partai GERINDRA hingga akhirnya Partai binaannya itu menjadi
Pemenang Nomor 3 dalam Pemilihan Umum 2014. Sebelumnya, pada tahun 2009, dia
melenggang ke pentas politik sebagai Calon Wakil Presiden dari Megawati
Soekarnoputri. Belum cukup? Partai binaannya itu, akhirnya mampu membangun
koalisi yang SUPER guna mengusung PRABOWO menjadi CALON PRESIDEN 2014
berpasangan dengan Hatta Rajasa. Kali ini, berhadapan dengan Megawati yang
mengutus seorang Joko Widodo.
Terperosok dalam survey dengan gap cukup besar pada 3-4 bulan
sebelum pelaksanaan Pemilihan Presiden 2014 tidak membuatnya patah arang.
Prabowo Subianto menunjukkan karakter ulet dan pantang menyerah. Keterpilihan
di survey yang kalah jauh dari Joko Widodo, perlahan dikebut, dikejar hingga
pada beberapa hari menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden 2014, dia mampu
memepet, jika tidak melampaui. Tidak ada surveyor yang SANGAT YAKIN bahwa Joko
Widodo akan memenangkan Pilpres sebelum seorang FACHRY HAMZAH berkicau
"Sinting" dan sebelum Fadly Zon membombardir Joko Widodo dan teamnya.
Tepat beberapa hari sebelum rakyat menuju BILIK SUARA.
Tidak salah jika Jusuf Kalla menyatakan bahwa kicauan
"sinting" Fachry Hamzah, bombardir sindiran dan serangan duet
Fachry+Fadly, justru menentukan kemenangan Jokowi. Ini boleh dikata sebagai
"balasan" atas perbuatan tidak simpatik duet maut Timses
Prabowo-Hatta yang terus membombardir Jokowi di masa tenang. Plus, di bulan
Ramadhan pula. Maksud mereka mendegradasi citra seorang Jokowi, tetapi apa
lacur, justru simpati pemilih yang condong ke Jokowi. Maka, hasil Pemilihan
Presiden 2014 akhirnya kita tahu bersama. Jokowi+Jusuf Kalla memenangkan
Pilpres 2014.
Jika pra Pemilihan Presiden blunder dilakukan oleh Tim Sukses yang
menghantarkan juang seorang Prabowo Subianto terlihat ANTI KLIMAKS, maka ironi
pasca pemungutan suara justru dilakukan Prabowo Subianto sendiri. Beberapa saat
sebelum Pleno penghitungan suara di KPU berakhir, dengan tinggal 2 daerah yang
akan dihitung, Prabowo Subianto menggelar Konferensi Pers di kediamannya. Posisi
penghitungan sudah jelas pada saat itu, PRABOWO-HATTA kalah suara dibandingkan
pasangan JOKOWI-KALLA. Isi konferensi per itu: Menarik Diri dari Proses
Pemilihan Presiden dan Menolak Hasil Pemilihan Presiden. Astaga .......?
Proses penghitungan sontak heboh. Saksi pasnagan PRABOWOI-HATTA
walk out meninggalkan sidang KPU. Tetapi penghitungan terus dan tetap
dilanjutkan dengan hasil akhir gap 8,000,000 lebih suara yang memenangkan Joko
Widodo guna menuju kursi Presiden RI 2014-2019. Tidak ada gejolak yang berarti
selain index harga gabungan saham dan rupiah yang terkoreksi menurun. Tetapi,
sambutan warga Indonesia sungguh dewasa. Tidak ada PERAYAAN KEMENANGAN
berlebihan dan tidak ada MASSA yang MENGAMUK. Pengumuman hasil penghitungan KPU
disambut dengan sukacita, disambut sebagai kemenangan demokrasi, meski ada
kelompok lain yang mempertanyakan proses Pemilihan Presiden yang dituduh
curang, tidak konstitusional dan berpihak.
Mengapa Blunder?
Mengapa disebut BLUNDER? Karena sangat disayangkan, perjalanan
karir seorang Prabowo Subianto naik secara perlahan hingga menduduki tempat
terhormat diantara elite politik Bangsa Indonesia. Jikapun kalah, seorang
Prabowo kalah secara terhormat dan sudah memberi pelajaran yang sangat berharga
bagi perjalanan demokrasi Indonesia. Dia akan dikenang secara terhormat dan
hampir bisa dipastikan, persoalan masa lalunya akan semakin senyap untuk digunjingkan
orang. Bahkan, diapun masih sangat mungkin menjadi bagian dari lingkaran elite
politik yang memberi pengaruh tidak kecil dalam perjalanan Bangsa kedepan.
Tetapi, yang dipilih dan dilakukan adalah kesebalikannya.
Mengundurkan diri dan menyatakan KPU curang, tidak adil, tidak terbuka dan
karenanya menolak hasil Pemilihan Presiden. Menuntut dilakukannya Pemilihan
Presiden ulang.
Meski publik politik Indonesia tidak bergejolak karena konferensi
pers Prabowo Subianto ini, tetapi rasanya efeknya akan seperti "bom"
bagi Prabowo Subianto sendiri. Terutama bagi karir politik yang sudah dibina,
sudah dipupuknya secara sangat sabar, telaten, terstruktur selama sepuluh tahun
terakhir. Proses panjang yang menghantarkannya menjadi Calon Wakil Presiden
2009 dan kemudian Calon Presiden tahun 2014. Teramat sedikit putra Bangsa yang
sanggup mencapai prestasi membanggakan seperti yang mampu dicapai oleh sang
Jendral yang memulainya dari nilai minus.
Segera setelah KPU menetapkan Joko Widodo sebagai Presiden terpilih
dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden terpilih, Presiden RI, Soesilo Bambang
Yudoyono langsung mengucapkan SELAMAT. Dan disusul dengan ucapan selamat dari
Wakil Presiden Boediono. Esoknya, ucapan selamat dan antusiasme dunia
internasional susul menyusul menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden
terpilih, termasuk dari Barack Obama, Presiden USA. Bahkan, Dubes USA
menegaskan: USA dan Indonesia dapat menjadi CONTOH bagi demokrasi global.
Sungguh luar biasa penghargaan tersebut.
Pada saat yang hampir bersamaan, Menko POLKAM juga menegaskan
bahwa masyarakat Indonesia sudah cerdas dan tidak ada gejolak meski Prabowo
Subianto menegaskan menolak hasil Pemilihan Presiden 2014. Dan ini dipertegas
lagi oleh Panglima TNI dan KAPOLRI yang menjawab pengunduran diri dan penolakan
Prabowo dengan MENINGKATKAN KEAMANAN. Sikap Negara sudah sangat jelas:
MENGHORMATI HASIL PENETAPAN KPU. Dalam hal ini, Presiden, Panglima TNI dan
KAPOLRI, memang menunjukkan keberpihakan yang sangat jelas kepada proses
demokrasi. Dan ini, semakin membuat posisi pilihan Prabowo menjadi terkesan
kurang mecerminkan kenegarawannnya. Berbeda jauh dengan proses perjalanan karir
politiknya yang dengan sabar dan perlahan-lahan dibangunnya.
Dengan sikap politik dan keberpihakan atas demokrasi yang
ditunjukkan oleh Pemerintah RI, juga atas antusiasme dunia internasional
terhadap keterpilihan Jokowi, maka penolakan Prabowo menjadi terasa
"aneh". Publikpun bertanya-tanya, apa gerangan yang disasar oleh
konferensi pers ini? Mengapa pula Prabowo rela menempuh langkah yang terkesan
inkonsisten dengan kalimat-kalimatnya yang terkesan ksatria sebelumnya? Masih
untung Prabowo menegaskan alur perjuangannya kedepan: Konstitusional, massa
pendukung tetap tenang dan berjuang tanpa melakukan kekerasan. Masih ada
penegasannya yang cukup positif meski sikap umumnya cenderung negatif terhadap
penghitungan KPU. Tidak lama kemudian, Team Sukses bermetaforfosis menjadi Team
Perjuangan Merah Putih.
Belum lagi, lewat sebuah media sosial, Penasehat Hukum (Team
Hukum) Prabowo-Hatta, Mahendratta juga menegaskan: Pasangan ini kehilangan
legal standing karena mengundurkan diri, karena itu MK (Mahkamah Konstitusi)
bukan pilihan berjuang. Masih diperkuat oleh penegasan AMIEN RAIS: MK bukan
pilihan. Ironis memang . Karena justru, pilihan yang tersedia hanyalah MK. Dan
bisa ditebak, keesokan harinya, kabar tersebut dianulir, dan kini Prabowo-Hatta
sedang menuju pintu MK untuk mengadukan hasil (atau proses?) yang menurut mereka
CURANG dan TIDAK ADIL tersebut. Inkonsisten? entahlah, biarlah orang banyak
menilai.
Dimana BLUNDER yang dimaksud?
Pertama, ternyata, meskipun Partai Demokrat (PD) - Partai
Pemerintah mendukung pasangan Prabowo-Hatta, tetapi Presiden SBY yang juga adalah
Ketua Umum PD, bersikap sebagai NEGARAWAN dan tetap Netral. Netralitas tersebut
berimbas kepada Panglima TNI dan KAPOLRI yang juga menempuh dan mengambil sikap
yang sama: Meningkatkan pengamanan ketika Prabowo Subianto mengumumkan
pengunduran diri dan menolak hasil PILPRES.
Kedua, antusiasme dunia internasional yang ditunjukkan dengan
derasnya arus ucapan SELAMAT kepada Jokowi semakin memperkokoh posisi
keterpilihannya. Dunia internasional justru bertanya-tanya dengan sikap Prabowo
yang terkesan kurang ksatria dan tidak menunjukkan sikap kenegerawanannya.
Ketiga, masyarakat sipil, bahkan termasuk PBNU yang Ketua Umumnya
menjadi pendukung Prabowo-Hatta secara pribadi, juga menunjukkan sikap yang
sama. Sejumlah besar organisasi Masyarakat Sipil menunjukkan dukungannya kepada
JOKOWI dan KPU sampil menyayangkan sikap Prabowo yang terkesan tidak NEGARAWAN.
Bahkan Ketua Umum PBNU ikut menyesalkan sikap dan pilihan Prabowo tersebut.
Keempat, merespons himbauan TNI/POLRI, masyarakat Indonesiapun
terkesan menganggap Pemilihan Presiden SUDAH SELESAI. Artinya, pilihan politik
terakhir Prabowo Subianto tidak mendapatkan dukungan yang signifikan dan tidak
memperoleh simpati masyarakat Indonesia.
Karena fakta-fakta di atas, maka Prabowo bagaikan melakukan
"bunuh diri" politik. Karir politik yang dibangun dengan perlahan dan
dalam hitungan tahunan, lebih kurang 10 tahun bakal menguap dengan sendirinya.
Terlepas dari pengaruh dan ambisi tim sukses yang mengitarinya, tetapi pilihan
politik yang dibacakannya sendiri dengan tidak didampingi Hatta Rajasa, membuat
tudingan banyak terarah ke Prabowo Subianto. Inilah blunder tersebut. Dan harus
dikatakan pilihan tersebut SANGAT DISAYANGKAN mengingat bagaimana dia menata
karir politiknya dari titik zero hingga mencapai titik yang sangat tinggi.
Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan bahwa Karir Politik Prabowo
Subianto sudah TAMAT. Karena bagaimanapun POLITIK bukanlah matematika. Tetap
ada kemungkinan sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tetapi, kecenderungan yang
sedang terjadi dewasa ini menempatkan posisi Prabowo dalam konteks Politik
Indonesia yang kurang menyenangkan. Kita semua boleh berharap, REKONSILIASI
yang dimaksud JOKOWI akan melibatkan proses memulihkan hubungan dengan PRABOWO
SUBIANTO. Meski, publik politik Indonesia akan memandang Prabowo sebagai orang
yang kurang ksatria menerima kekalahannya. Sayang disayangkan !!!
Jakarta, 24 Juli 2014
No comments:
Post a Comment